Selasa, 18 Mac 2014

Nasihat al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah Ta’ala. (Siri 1)

Bismillahir Rahmaanir Raahiim.

Alhamdulillah, kita bersyukur ke hadrat Allah ‘azza wa jallah kerana telah mengurniakan kepada kita nikmat, terutama nikmat Islam, iman dan nikmat di atas as-Sunnah. Sungguh amat berbahagialah mereka-mereka yang diberikan ketiga nikmat yang terbesar tersebut yakni nikmat Islam, Iman dan nikmat as-Sunnah.

Juga. Diantara nikmat yang terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba ialah dijadikan kita untuk semangat terus menerus menuntut ilmu Allah ‘azza wa jalla. Kerana ilmu merupakan pengisian untuk hati kita, makanan bagi hati kita. Sebagaimana keinginan kita kepada udara sepanjang hari untuk bernafas, demikian juga ilmu sangat penting yang diinginkan oleh hati kecil kita. Tanpa ilmu, hati kita takkan hidup, kita tidak akan dapat mengenal Allah dan juga kita tidak akan tahu apa hakikat/tujuan hidup kita di dunia ini.

Pada kesempatan ini, saya ingin berkongsi sebuah faedah yang dibahas oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah di dalam kitab beliau ‘Fawaidul Fawaid’, yang mana saya berharap semoga ia dapat memberi manfaat kepada diri ini dan juga kepada saudara-saudara yang membacanya.

Beliau (Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah) menyampaikan tentang ’10 HAL YANG TIDAK ADA MANFAATNYA’. Iaitu:

1. Ilmu Yang Tidak diamalkan

Cuba kita muhasabah diri sendiri, sudah berapa tahun kita menuntut ilmu? Sudah berapa lama kita menuntut ilmu? Dan sudah berapa banyak ilmu tersebut kita amalkan dalam kehidupan seharian kita atau apakah kita menutut ilmu tersebut sekadar untuk berbangga-bangga dengan banyaknya hafalan? Buat apa ilmu yang sekadar untuk dihafal dan berbangga di atasnya sekiranya ia tidak di amalkan bahkan ianya hanya menimbulan perasaan ujub dalam diri, ketahuilah wahai Saudaraku, ia merupakan ilmu yang tidak bermanfaat.

Makanya, seorang Ulama Salaf berkata:

Ilmu itu bukan dengan banyaknya hafal riwayat, akan tetapi ilmu itu akan menimbulkan khasysyah (takut kepada Allah).”

Terkadang mungkin, kita sudah menuntut ilmu 3,4, 5 tahun lamanya, akan tetapi semakin lama kita menuntut ilmu malah mudahnya kita meremhkan orang yang berada keilmuannya di bawah kita. Bukankah meremhkan orang lain salah satu sifat kesombongan?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang Sahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(Hadith Riwayat Imam Muslim)

Makanya, ilmu seperti merupakan ilmu yang tida ada manfaatnya bagi pelakunya. Jangan sampai lamanya waktu menuntut ilmu malah menambah kerasnya hati, kerana hal ini dicela oleh Allah ‘azza wa jalla:

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

“Apakah belum saatnya orang yang beriman agar hati mereka merasa takut dengan berzikir kepada Allah? Dan janganlah mereka seperti orang-orang Ahli Kitab sebelum mereka. Waktu berlalu panjang kepada mereka, rupanya panjangnya waktu itu bukan menambah mereka rasa takut, lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakkan mereka fasiq.”
(Surah al-Hadid:16)

Kita berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung:


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

 MaksudnyaYa Allah Azza wa Jalla , aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu', dan dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang, serta dari doa yang tidak dikabulkan. (Hadith Riwayat Imam Muslim)

2. Amal yang tidak menepati dua syarat.

Sudah dimakumi, bahawasanya sesuatu amalan itu tidak akan diterima melainkan memenuhi dua syarat:

*Ikhlas
*Ittiba' ar-Rasul.

Maka, beramal tanpa diiringi dua syarat di atas maka ia menjadi amalan yang sia-sia, tidak ada manfaatnya bagi pelakunya, tidak akan diterima oleh Allah 'azza wa jalla.

Jika beramal sekadar untuk mendapatkan pujian manusia, untuk mendapatkan dunia, maka berbahagialah bahawasanya Allah 'azza wa jalla khabarkan ia akan mendapatkan dunianya namun di akhirat tidak akan beruntung bahkan ia akan dibalas dengan balasan api neraka.

Allah 'azza wa jalla berfirman:

Maksudnya: “Sesiapa yang keadaan usahanya semata-mata berkehendakkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami akan sempurnakan hasil usaha mereka di dunia, dan mereka tidak dikurangkan sedikitpun padanya. Merekalah orang-orang yang tidak ada baginya pada hari akhirat kelak selain daripada azab neraka, dan pada hari itu gugurlah apa yang mereka lakukan di dunia, dan batalah apa yang mereka telah kerjakan.”
(Surah Hud:15-16)

Terkadang, ketika kita beramal, kita ikhlas pada satu sesi, tapi pada sesi yang lain kita mengharap kan kehidupan dunia. Sebagai contoh, ada orang melakukan solat malam yakni Tahajud, ia mengerjakannya untuk mengharapkan wajah Allah dan juga mengharapkan agar rezekinya lancar, bahkan pada amalan-amalan yang lainnya, sering dilakukan dalam keadaan dengan niat yang seperti itu. 

Al-Imam as-Suyuti rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Asybah wan Nadho'ir ketika membahaskan tentang niat orang yang pergi haji:

*Niat orang yang pergi haji kerana Allah dan
*Untuk tujuan bisnes.

Apakah ia dapat pahala atau tidak? kata Imam as-Suyuti: "Melihat mana yang paling kuat pengaruhnya, kalau ternyata yang paling kuat adalah hajinya, maka ia akan dapat pahala dan kalau ternyata yang paling kuat pengaruhnya itu adalah bisnesnya, maka ia akan mendapat dosa dan kalau ternyata niatnya seimbang, maka ia saling berguguran, tidak dapat dosa dan tidak dapat pahala.

Sia-sia amalan yang yang diringi dengan dua niat seperti ini.

Di dalam Kitab Sahih at-Targhib wa at-Tarhib, Imam Abu Dawud dan Imam an-Nasa'i rahimahullah ta'ala meriwayatkan dengan sanad Hasan, dari Abu Umamah radhiallahu 'anhu ia menuturkan:

"Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: 

'Bagaimana menurutmu seorang lelaki yang berperang untuk mencari pahala dan populariti, apa yang ia dapat?'

Maka Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Tidak ada apa-apa yang ia dapat.'

Lalu orang itu mengulanginya tiga kali dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tetap menjawab: 'Tidak ada apa-apa yang ia dapat. Lalu bersabda:

'Sesungguhnya Allah tidak menerima amal apa pun kecuali yang ikhlas dan hanya untuk mengharapkan wajahNya dengannya(pahala)."

Oleh hal yang demikian, apabila kita niat beramal masih lagi mengharapkan kehidupan dunia, mengharapkan pujian manusia, maka ketahuilah ia merupakan musibah terhadap diri kita. Tidak ada manfaatnya bagi diri kita.


Wallahu’alam. Insya-Allah akan menyusul serial yang ke-2 dalam tajuk 10 Perkara yang tidak ada manfaatnya.


(Faedah dipetik dari mp3 Kuliah Ustaz Yahya Badrusalam-10 Nasihat al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah)





Tiada ulasan:

Catat Ulasan