Bismillahir Rahmaanir Raahiim.
Alhamdulillah, kita bersyukur ke hadrat
Allah ‘azza wa jallah kerana telah mengurniakan kepada kita nikmat, terutama
nikmat Islam, iman dan nikmat di atas as-Sunnah. Sungguh amat berbahagialah
mereka-mereka yang diberikan ketiga nikmat yang terbesar tersebut yakni nikmat
Islam, Iman dan nikmat as-Sunnah.
Juga. Diantara nikmat yang terbesar
yang diberikan Allah kepada seorang hamba ialah dijadikan kita untuk semangat
terus menerus menuntut ilmu Allah ‘azza wa jalla. Kerana ilmu merupakan
pengisian untuk hati kita, makanan bagi hati kita. Sebagaimana keinginan kita
kepada udara sepanjang hari untuk bernafas, demikian juga ilmu sangat penting
yang diinginkan oleh hati kecil kita. Tanpa ilmu, hati kita takkan hidup, kita
tidak akan dapat mengenal Allah dan juga kita tidak akan tahu apa
hakikat/tujuan hidup kita di dunia ini.
Pada kesempatan ini, saya ingin
berkongsi sebuah faedah yang dibahas oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah
rahimahullah di dalam kitab beliau ‘Fawaidul Fawaid’, yang mana saya berharap
semoga ia dapat memberi manfaat kepada diri ini dan juga kepada saudara-saudara
yang membacanya.
Beliau (Al-Imam Ibnu Qayyim
al-Jauziyah) menyampaikan tentang ’10 HAL YANG TIDAK ADA MANFAATNYA’. Iaitu:
1. Ilmu Yang Tidak diamalkan
Cuba kita muhasabah diri sendiri, sudah
berapa tahun kita menuntut ilmu? Sudah berapa lama kita menuntut ilmu? Dan
sudah berapa banyak ilmu tersebut kita amalkan dalam kehidupan seharian kita
atau apakah kita menutut ilmu tersebut sekadar untuk berbangga-bangga dengan
banyaknya hafalan? Buat apa ilmu yang sekadar untuk dihafal dan berbangga di atasnya
sekiranya ia tidak di amalkan bahkan ianya hanya menimbulan perasaan ujub dalam
diri, ketahuilah wahai Saudaraku, ia merupakan ilmu yang tidak bermanfaat.
Makanya, seorang Ulama Salaf berkata:
“Ilmu itu bukan dengan banyaknya
hafal riwayat, akan tetapi ilmu itu akan menimbulkan khasysyah (takut kepada
Allah).”
Terkadang mungkin, kita sudah menuntut
ilmu 3,4, 5 tahun lamanya, akan tetapi semakin lama kita menuntut ilmu malah
mudahnya kita meremhkan orang yang berada keilmuannya di bawah kita. Bukankah
meremhkan orang lain salah satu sifat kesombongan?
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
bersabda:
“Tidak akan masuk syurga orang yang
di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang Sahabat
lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan
sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah
dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan
meremehkan manusia.”
(Hadith Riwayat Imam Muslim)
Makanya, ilmu seperti merupakan ilmu
yang tida ada manfaatnya bagi pelakunya. Jangan sampai lamanya waktu menuntut
ilmu malah menambah kerasnya hati, kerana hal ini dicela oleh Allah ‘azza wa
jalla:
Allah ‘azza wa jalla berfirman:
“Apakah belum saatnya orang yang
beriman agar hati mereka merasa takut dengan berzikir kepada Allah? Dan
janganlah mereka seperti orang-orang Ahli Kitab sebelum mereka. Waktu berlalu
panjang kepada mereka, rupanya panjangnya waktu itu bukan menambah mereka rasa
takut, lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakkan mereka fasiq.”
(Surah al-Hadid:16)
Kita berlindung dari ilmu yang tidak
bermanfaat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ
لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
Maksudnya: Ya Allah Azza wa Jalla ,
aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak
khusyu', dan dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang, serta dari doa yang
tidak dikabulkan. (Hadith Riwayat
Imam Muslim)
2. Amal yang tidak menepati dua syarat.
Sudah dimakumi, bahawasanya
sesuatu amalan itu tidak akan diterima melainkan memenuhi dua syarat:
*Ikhlas
*Ittiba' ar-Rasul.
Maka, beramal tanpa
diiringi dua syarat di atas maka ia menjadi amalan yang sia-sia, tidak ada
manfaatnya bagi pelakunya, tidak akan diterima oleh Allah 'azza wa jalla.
Jika beramal sekadar untuk
mendapatkan pujian manusia, untuk mendapatkan dunia, maka berbahagialah
bahawasanya Allah 'azza wa jalla khabarkan ia akan mendapatkan dunianya namun
di akhirat tidak akan beruntung bahkan ia akan dibalas dengan balasan api
neraka.
Allah 'azza wa jalla
berfirman:
Maksudnya: “Sesiapa yang
keadaan usahanya semata-mata berkehendakkan kehidupan dunia dan perhiasannya,
maka Kami akan sempurnakan hasil usaha mereka di dunia, dan mereka tidak
dikurangkan sedikitpun padanya. Merekalah orang-orang yang tidak ada baginya
pada hari akhirat kelak selain daripada azab neraka, dan pada hari itu gugurlah
apa yang mereka lakukan di dunia, dan batalah apa yang mereka telah kerjakan.”
(Surah Hud:15-16)
Terkadang, ketika kita beramal, kita
ikhlas pada satu sesi, tapi pada sesi yang lain kita mengharap kan kehidupan
dunia. Sebagai contoh, ada orang melakukan solat malam yakni Tahajud, ia
mengerjakannya untuk mengharapkan wajah Allah dan juga mengharapkan agar
rezekinya lancar, bahkan pada amalan-amalan yang lainnya, sering dilakukan
dalam keadaan dengan niat yang seperti itu.
Al-Imam as-Suyuti
rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Asybah wan Nadho'ir ketika membahaskan
tentang niat orang yang pergi haji:
*Niat orang yang pergi haji
kerana Allah dan
*Untuk tujuan bisnes.
Apakah ia dapat pahala atau
tidak? kata Imam as-Suyuti: "Melihat mana yang paling kuat
pengaruhnya, kalau ternyata yang paling kuat adalah hajinya, maka ia akan dapat
pahala dan kalau ternyata yang paling kuat pengaruhnya itu adalah bisnesnya,
maka ia akan mendapat dosa dan kalau ternyata niatnya seimbang, maka ia saling
berguguran, tidak dapat dosa dan tidak dapat pahala.
Sia-sia amalan yang yang
diringi dengan dua niat seperti ini.
Di dalam Kitab Sahih
at-Targhib wa at-Tarhib, Imam Abu Dawud dan Imam an-Nasa'i rahimahullah ta'ala
meriwayatkan dengan sanad Hasan, dari Abu Umamah radhiallahu 'anhu ia
menuturkan:
"Ada
seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu
berkata:
'Bagaimana
menurutmu seorang lelaki yang berperang untuk mencari pahala dan populariti,
apa yang ia dapat?'
Maka Rasulullah
shallalahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Tidak ada apa-apa yang ia dapat.'
Lalu orang itu
mengulanginya tiga kali dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tetap
menjawab: 'Tidak ada apa-apa yang ia dapat. Lalu bersabda:
'Sesungguhnya
Allah tidak menerima amal apa pun kecuali yang ikhlas dan hanya untuk
mengharapkan wajahNya dengannya(pahala)."
Oleh hal yang demikian,
apabila kita niat beramal masih lagi mengharapkan kehidupan dunia, mengharapkan
pujian manusia, maka ketahuilah ia merupakan musibah terhadap diri kita. Tidak
ada manfaatnya bagi diri kita.
Wallahu’alam. Insya-Allah
akan menyusul serial yang ke-2 dalam tajuk 10 Perkara yang tidak ada
manfaatnya.
(Faedah dipetik dari mp3 Kuliah Ustaz
Yahya Badrusalam-10 Nasihat al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah)
Tiada ulasan:
Catat Ulasan