Jumaat, 9 Mei 2014

'Umar radhiallahu 'anhu dan Karamah Wali

Bismillah

Karamah itu ada! Ya, Ahlus Sunnah meyakini bahawasanya karamah itu ada pada wali Allah yang sholeh, dan ia merupakan nikmat yang Allah berikan kepada wali-wali Allah.

Dalam surah Yunus:62-64, Allah jelaskan tentang sifat mereka (yakni para Wali) ini:

"Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Iaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira  di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang besar."

Sebuah kisah yang sangat masyur, kisah di mana 'Umar memerintahkan Sariyah untuk lari ke Gunung. Kisah tersebut diriwayatkan oleh anak beliau sendiri yakni Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma.

Dari Ibnu 'Umar radhiallahu 'anhuma bahawa 'Umar mengirim satu pasukan yang dipimpin oleh seorang lelaki bernama Sariyah. Ketika 'Umar sedang berkhutbah, tiba-tiba dia berteriak: "Wahai Sariyah, larilah ke gunung!" tiga kali. Setelah itu utusan dari pasukan tersebut tiba, 'Umar bertanya kepadanya, maka dia menceritakan: "Wahai Amirul Mukminin! Kami kalah, namun pada saat itu kami mendengar seorang berseru: "Wahai Sariyah, larilah ke gunung!" sebanyak tiga kali, maka kami menyandarkan punggung kami ke gunung, akhirnya Allah mengalahkan mereka." Seorang berkata kepada 'Umar: "Engkaulah yang berseru demikian."
(Diriwayatkan Oleh Imam al-Baihaqi dalam ad-Dalail dan Ibnu 'Asakir. Disebutkan juga oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah, dan beliau berkata: "Ini adalah sanad yang jayyid atau hasan." Juga disetujui oleh Syeikh Albani rahimahullah dalam ash-Shahiihah.)

Syeikh al-Albani rahimahullah, ulama yang agung ini berkata:

"Kisah ini sahih dan valid. Ia adalah sebuah karamah dari Allah untuk 'Umar, di mana dengannya Allah menyelamatkan pasukan kaum Muslimin dari kekalahan yang membuat mereka ditawan atau dibantai. Akan tetapi ia tidak seperti yang diklaim oleh orang-orang sufi berupa pengetahuan terhadap yang ghaib, tetapi ia hanyalah ilham dalam terminilogi syariat atau telepati dalam istilah sekarang yang tidak ma'shum, ia bisa benar sebagaimana dalam kisah ini dan bisa juga salah dan inilah yang umumnya terjadi pada kebanyakan manusia."
(al-Silsilah ash-Shahiihah)

[Faedah dari Kitab Sahabat-Sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam karya Syeikh Mahmud al-Mishri, jilid 1, ms 260-261, bab tentang 'Umar radhiallahu 'anhu.]

Tambahan: Kita tidak bisa mengatakan sesuka hati bahawa 'si fulan punya karamah, tok syeikh ini punya karamah dsb.' Pun kita dapati seseorang itu punya karamah, maka kita hendaklah memeriksa amalannya, sama ada menepati sunnah atau tidak. Kerana, syaitan bisa menipu.

Jika menepati sunnah, maka tidak asing lagi bahawasanya karamah tersebut merupakan nikmat yang Allah berikan kepadanya, tetapi jika amalannya tidak menepati sunnah, boleh jadi syaitan telah lakukan tipu daya. Wallahu'alam

Selasa, 18 Mac 2014

Nasihat al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah Rahimahullah Ta’ala. (Siri 1)

Bismillahir Rahmaanir Raahiim.

Alhamdulillah, kita bersyukur ke hadrat Allah ‘azza wa jallah kerana telah mengurniakan kepada kita nikmat, terutama nikmat Islam, iman dan nikmat di atas as-Sunnah. Sungguh amat berbahagialah mereka-mereka yang diberikan ketiga nikmat yang terbesar tersebut yakni nikmat Islam, Iman dan nikmat as-Sunnah.

Juga. Diantara nikmat yang terbesar yang diberikan Allah kepada seorang hamba ialah dijadikan kita untuk semangat terus menerus menuntut ilmu Allah ‘azza wa jalla. Kerana ilmu merupakan pengisian untuk hati kita, makanan bagi hati kita. Sebagaimana keinginan kita kepada udara sepanjang hari untuk bernafas, demikian juga ilmu sangat penting yang diinginkan oleh hati kecil kita. Tanpa ilmu, hati kita takkan hidup, kita tidak akan dapat mengenal Allah dan juga kita tidak akan tahu apa hakikat/tujuan hidup kita di dunia ini.

Pada kesempatan ini, saya ingin berkongsi sebuah faedah yang dibahas oleh al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah di dalam kitab beliau ‘Fawaidul Fawaid’, yang mana saya berharap semoga ia dapat memberi manfaat kepada diri ini dan juga kepada saudara-saudara yang membacanya.

Beliau (Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah) menyampaikan tentang ’10 HAL YANG TIDAK ADA MANFAATNYA’. Iaitu:

1. Ilmu Yang Tidak diamalkan

Cuba kita muhasabah diri sendiri, sudah berapa tahun kita menuntut ilmu? Sudah berapa lama kita menuntut ilmu? Dan sudah berapa banyak ilmu tersebut kita amalkan dalam kehidupan seharian kita atau apakah kita menutut ilmu tersebut sekadar untuk berbangga-bangga dengan banyaknya hafalan? Buat apa ilmu yang sekadar untuk dihafal dan berbangga di atasnya sekiranya ia tidak di amalkan bahkan ianya hanya menimbulan perasaan ujub dalam diri, ketahuilah wahai Saudaraku, ia merupakan ilmu yang tidak bermanfaat.

Makanya, seorang Ulama Salaf berkata:

Ilmu itu bukan dengan banyaknya hafal riwayat, akan tetapi ilmu itu akan menimbulkan khasysyah (takut kepada Allah).”

Terkadang mungkin, kita sudah menuntut ilmu 3,4, 5 tahun lamanya, akan tetapi semakin lama kita menuntut ilmu malah mudahnya kita meremhkan orang yang berada keilmuannya di bawah kita. Bukankah meremhkan orang lain salah satu sifat kesombongan?

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Tidak akan masuk syurga orang yang di dalam hatinya ada sebesar dzarrah dari kesombongan.” Salah seorang Sahabat lantas bertanya: “Sesungguhnya seseorang senang jika bajunya bagus dan sandalnya baik?” Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Dzat yang Maha Indah dan senang dengan keindahan, Al-Kibru (sombong) adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(Hadith Riwayat Imam Muslim)

Makanya, ilmu seperti merupakan ilmu yang tida ada manfaatnya bagi pelakunya. Jangan sampai lamanya waktu menuntut ilmu malah menambah kerasnya hati, kerana hal ini dicela oleh Allah ‘azza wa jalla:

Allah ‘azza wa jalla berfirman:

“Apakah belum saatnya orang yang beriman agar hati mereka merasa takut dengan berzikir kepada Allah? Dan janganlah mereka seperti orang-orang Ahli Kitab sebelum mereka. Waktu berlalu panjang kepada mereka, rupanya panjangnya waktu itu bukan menambah mereka rasa takut, lalu hati mereka menjadi keras dan kebanyakkan mereka fasiq.”
(Surah al-Hadid:16)

Kita berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung:


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

 MaksudnyaYa Allah Azza wa Jalla , aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu', dan dari jiwa yang tidak pernah merasa kenyang, serta dari doa yang tidak dikabulkan. (Hadith Riwayat Imam Muslim)

2. Amal yang tidak menepati dua syarat.

Sudah dimakumi, bahawasanya sesuatu amalan itu tidak akan diterima melainkan memenuhi dua syarat:

*Ikhlas
*Ittiba' ar-Rasul.

Maka, beramal tanpa diiringi dua syarat di atas maka ia menjadi amalan yang sia-sia, tidak ada manfaatnya bagi pelakunya, tidak akan diterima oleh Allah 'azza wa jalla.

Jika beramal sekadar untuk mendapatkan pujian manusia, untuk mendapatkan dunia, maka berbahagialah bahawasanya Allah 'azza wa jalla khabarkan ia akan mendapatkan dunianya namun di akhirat tidak akan beruntung bahkan ia akan dibalas dengan balasan api neraka.

Allah 'azza wa jalla berfirman:

Maksudnya: “Sesiapa yang keadaan usahanya semata-mata berkehendakkan kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami akan sempurnakan hasil usaha mereka di dunia, dan mereka tidak dikurangkan sedikitpun padanya. Merekalah orang-orang yang tidak ada baginya pada hari akhirat kelak selain daripada azab neraka, dan pada hari itu gugurlah apa yang mereka lakukan di dunia, dan batalah apa yang mereka telah kerjakan.”
(Surah Hud:15-16)

Terkadang, ketika kita beramal, kita ikhlas pada satu sesi, tapi pada sesi yang lain kita mengharap kan kehidupan dunia. Sebagai contoh, ada orang melakukan solat malam yakni Tahajud, ia mengerjakannya untuk mengharapkan wajah Allah dan juga mengharapkan agar rezekinya lancar, bahkan pada amalan-amalan yang lainnya, sering dilakukan dalam keadaan dengan niat yang seperti itu. 

Al-Imam as-Suyuti rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Asybah wan Nadho'ir ketika membahaskan tentang niat orang yang pergi haji:

*Niat orang yang pergi haji kerana Allah dan
*Untuk tujuan bisnes.

Apakah ia dapat pahala atau tidak? kata Imam as-Suyuti: "Melihat mana yang paling kuat pengaruhnya, kalau ternyata yang paling kuat adalah hajinya, maka ia akan dapat pahala dan kalau ternyata yang paling kuat pengaruhnya itu adalah bisnesnya, maka ia akan mendapat dosa dan kalau ternyata niatnya seimbang, maka ia saling berguguran, tidak dapat dosa dan tidak dapat pahala.

Sia-sia amalan yang yang diringi dengan dua niat seperti ini.

Di dalam Kitab Sahih at-Targhib wa at-Tarhib, Imam Abu Dawud dan Imam an-Nasa'i rahimahullah ta'ala meriwayatkan dengan sanad Hasan, dari Abu Umamah radhiallahu 'anhu ia menuturkan:

"Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata: 

'Bagaimana menurutmu seorang lelaki yang berperang untuk mencari pahala dan populariti, apa yang ia dapat?'

Maka Rasulullah shallalahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Tidak ada apa-apa yang ia dapat.'

Lalu orang itu mengulanginya tiga kali dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tetap menjawab: 'Tidak ada apa-apa yang ia dapat. Lalu bersabda:

'Sesungguhnya Allah tidak menerima amal apa pun kecuali yang ikhlas dan hanya untuk mengharapkan wajahNya dengannya(pahala)."

Oleh hal yang demikian, apabila kita niat beramal masih lagi mengharapkan kehidupan dunia, mengharapkan pujian manusia, maka ketahuilah ia merupakan musibah terhadap diri kita. Tidak ada manfaatnya bagi diri kita.


Wallahu’alam. Insya-Allah akan menyusul serial yang ke-2 dalam tajuk 10 Perkara yang tidak ada manfaatnya.


(Faedah dipetik dari mp3 Kuliah Ustaz Yahya Badrusalam-10 Nasihat al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah)





Sabtu, 8 Mac 2014

Nasihat al-Fadhil Ustaz Reza Kepada Pemuda Sunni di Kota Kinabalu

Bismillahir Rahmaanir Rahiim,

Alhamdulillah, pada hari rabu yang bertarikh 5 Mac 2014, kami telah menerima kehadiran seorang Ustaz daripada semenanjung yang mana beliau ini merupakan orang yang tidak kurang pentingnya dalam gerakan dakwah Sunnah. Beliau ialah Ustaz Mohd Riza Kamaruddin.

Meminta nasihat kepada orang yang lebih ahli dan lebih berilmu merupakan salah satu sikap yang harus ada pada setiap mereka-mereka yang bergelar sebagai Tholibul 'Ilmi. Maka, kami mengambil kesempatan untuk meminta kepada beliau suatu nasihat buat kami ataupun yang lebih khusus lagi kepada pemuda Sunnidi Kota Kinabalu.

Berikut, nasihat beliau yang insya-Allah akan kami kongsikan di ruangan ini.

"Bismillah, alhamdulillahi was sholatu wassalamu 'ala rosulillahi wa 'ala alihi wa ashhabihi wa mau wa laa, amma ba'ad.

Untuk Adinda saya semuanya di Kota Kinabalu, saya suka berpesan kepada antum semua untuk terus memahami Manhaj Sunnah ini, tidak lain dan tidak bukan, antum semua kena sering hadir dalam majlis ilmu dan antum saya nasihatkan supaya memiliki kitab. Supaya, segala ilmu yang kita pelajari itu dapat kita cernakan dengan pembacaan kita yang lebih baik. Supaya ia lebih terus memantapkan aqidah dan manhaj kita.

Kerana di luar sana, kita dilingkungi dengan fitnah yang pelbagai . Maka untuk mencernakan semua fitnah, tohmahan dan sebagainya itu tidak lain dan tidak bukan dengan ILMU. Jadi, saya menyeru kepada semua adinda saya, supaya antum jangan tinggalkan majlis ilmu. Paling tidak, seminggu sekali antum mesti hadir jika punya kelapangan yang baik, di mana sahaja ada jadual pengajian yang antum kenal, guru yang bermanhaj Salaf, maka sebolehnya antum semua tidak menguzurkan diri untuk terus tetap belajar dan berdiskusi dengan para asatizah yang semanhaj dengan kita.

Kerana, untuk menelusuri gerak kerja salaf ini bukan suatu perkara main-main, sebab kita terlalu banyak halangan dan rintangan yang menanti kita bahkan musuh ada di sekeliling kita tanpa kita sedar sering merencana dan mengatur strategi untuk menghadapi kita. wallahu'alam." Selesai perkataan Ustaz.

Semoga bermanfaat buat kita semua.

Disampaikan oleh: Ustaz Mohd Riza Kamaruddin
Bertempat Di: Hotel Zara Beautique
Pada Pukul: 2347 PM.
Tanggal: 6 March 2014.

Transkrip oleh: Aljimar Almahir
Bertempat: Country Height.




Hati Sihat/Qalbun Saliim


Bismillahir Rahmaanir Rahiim.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. Jika segumpal darah itu tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rosak  maka akan rosak pulalah seluruh tubuhnya. Ketahuilah segumpal darah tersebut adalah HATI (jantung).”
[Hadith Riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim]

Hati memiliki peranan yang sangat penting bagi menentukan sesuatu hal itu baik mahupun tidak baik. Kerna, ia laksana seorang Maharaja yang memiliki kerajaan dan rakyatnya. Jika Maharaja ini baik terhadap pemerintahan dan rakyatnya, maka akan baik pulalah kerajaan yang ia pimpin tersebut. Andaikata Maharaja ini tidak baik maka hancur dan binasalah kerajaan yang ia pimpin sekaligus rakyatnya. Demikianlah peranan hati terhadap diri seseorang insan. Jika hati seseorang itu baik maka akan baiklah seseorang itu dan jika buruk maka binasalah.

Oleh hal demikian, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan kepada kaum muslimin agar menjaga hati. Kerana, hati ini memiliki sifat hidup dan mati. Hati yang hidup itulah yang diertikan sebagai hati yang sihat ataupun yang dipanggila sebagai “Qalbun Saliim”. Sungguh amat bahagia seseorang muslim sekiranya ia memiliki hati yang seperti ini. Disebutkan dalam al-Quran, Allah ‘azza wa jalla berfirman:

 يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ


“Pada hari yang harta dan anak-anak tiada berguna. Kecuali barangsiapa yang datang kepada Allah dengan hati yang saliim.”
[Surah asy-Syu’ara:88-89]

Kita melihat, pelbagai macam jenis manusia pada hari ini mengertikan apa yang dimaksudkan dengan hati yang sihat. Namun, ia tetap bertemu pada titik temu yang sama yang mana hati yang sihat adalah hati yang terhindari daripada melakukan apa-apa yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla. Terbebas daripada melakukan ibadah selain kepada Allah ‘azza wa jalla. Terbebas daripada melakukan sesuatu yang bukan datang daripada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta tidak mengambil hukum selain daripada petunjuk Nabi shallallahu alaihi wasallam. Hati yang sihat itu akan senantiasa mencintai sesuatu kerana Allah ‘azza wa jalla, mengikuti sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bertawakal kepada Allah ‘azza wa jalla semata dan mengharap serta tunduk patuh kepada Tuhan yang SATU.

Hati yang sihat itu tidak memungkinnya untuk beribadah kepada selain Allah ‘azza wajalla, seluruh ibadahnya ia tujukan kepada Allah ‘azza wa jalla, mengikhlaskan hati dan amalannya kepada Allah ‘azza wa jalla. Bila ia mencintai, cinta itu tidak lain dan tidak bukan atas dasar kecintaan kerana Allah ‘azza wa jalla, apabila ia membenci, ia membenci kerana Allah ‘azza wa jall, bila memberi, ia memberi kerana Allah ‘azza wa jalla dan bila ia menolak ia  menolak kerana Allah ‘azza wa jalla.

Untuk ini sahaja tidak cukup, perlu ditambahi dengan mengikuti segala peraturan yang Rasul shallallahu alaihi wasallam berikan kepada umat ini. Terbebas daripada mengambil hukum selain hukum yang telah ditetapkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti dan meneladani beliau baik dalam ucapan mahupun perbuatan, baik apa  yang terbisik dari hati mahupun apa yang diungkapkan lisan yang dipetik daripada hati.

Apa-apa juga perkara dan masalah baik kecil mahupun besar, sudah semestinya yang menjadi hakim dalam hal ini adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, tidak bertindak mendahului Allah dan Rasul-Nya baik dalam masalah keyakinan, perbuatan dan ucapan. Allah ‘azza wa jalla berfirman:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNYA.”
[Surah al-Hujurat:1]

Allah ‘azza wa jalla telah memberi peringatan kepada seluruh kaum muslimin supaya jangan berkata sebelum Rasul shallalahu ‘alaihi wasallam berkata, jangan lakukan apa-apa perbuatan sebelum Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam perintahkan untuk kita berbuat.

Khatimahnya, sebuah renungan, seorang ulama Salaf berkata:

“Setiap perbuatan sekecil apapun pasti akan ditanya dengan dua pertanyaan yakni mengapa dan bagaimana. Yakni, mengapa kamu berbuat dan bagaimana kamu berbuat? Pertanyaan pertama berkenaan dengan sebab, motivasi dan latar belakang perbuatan, apakah bertitik tolak daripada kepentingan dan cita-cita pelakunya di dunia seperti kesenangan dipuji, ketakutan terhadap celaan, keinginan memperoleh sesuatu yang disukai dan upaya menghindari sesuatu yang disukai dan upaya menghindari sesuatu yang dibenci di dunia ataukah perbuatan itu dilakukan dengan tujuan untuk menunaikan ibadah, meraih cinta Allah, mendekatkan diri kepada-Nya dan mencari jalan menuju redha-Nya?
Pertanyaan ini bermaksud untuk mengetahui apakah Anda melakukan perbuatn tersebut untuk Tuhan ataukah untuk kepentingan dan keinginan nafsu semata?
Adapun maksud pertanyaan kedua adalah untuk mengetahui kadar mutaba’ah (meneladani) kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam ibadah tersebut. Artinya apakah perbuatan tersebut telah Aku perintahkan kepadamu melalui lisan Rasul-Ku ataukah tidak Aku perintahkan dan tidak Aku redhoi?

Pertanyaan pertama mengenai keikhlasan sedangkan yang kedua mengenai mutaba’ah. Sebab, Allah ‘azza wa jalla tidak akan menerima amal kecuali dengan keduanya.

Antisipasi terhadap pertanyaan pertama adalah dengan memurnikan keikhlasan, sedangkan terhadap pertanyaan kedua adalah dengan merealisasikan mutaba’ah dengan sebenar-benarnya. Hati harus bersih dari keinginan yang bertentangan dengan keikhlasan dan dari nafsu yang bertentangan dengan mutaba’ah. Inilah hakikat kesihatan bagi hati yang dijamin selamat dan berbahagia.”  

Faedah dipetik daripada Bab 1 dari Kitab Ighatsatul Lahfan Min Mashaidisy Syaithan/Menyelamatkan Hati daripada Tipu Daya Syaitan-Oleh Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah ta’ala.

Terbitan al-Qowam, edisi cetakan ke-4.

Semoga bermanfaat.

Abu Hatim Aljimar
Pukul 0733, Country Height,
Kota Kinabalu, Sabah.

Selasa, 4 Mac 2014

Catatan Mp3 Kuliah Ustaz Abdullah Shaleh Hadrami-Silsilah Qowaid wa Ushul Fit Tafsir

Bismillahir Rahmaaniir Raahiim

Definisi al-Quran

Pertamanya, apa yang diertikan sebagai al-Quran?

Para Ulama mendefinisikan al-Quran dengan sangat mudah, al-Quran menurut istilah syariat adalah:

"Kalamullahu ta'ala al-munazzal 'ala rosulihi wa khootami anbiyaa-ihii Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam al-mabdu' fii suuratil fatihah, al-makhtum fii suuratinn Naas."

Maksudnya: al-Quran adalah firman Allah 'azza wa jalla yang diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam iaitu penutup para Nabi, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang dimulai dengan surah al-Fatihah dan ditutup dengan surah an-Nas.

Nuzulul Quran

Kemudian, Ustaz membacakan dalil yang terdapat di dalam surah Yunus:2:

"Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran itu (dalam) bahasa arab supaya kamu memahami."

Seterusnya, Allah 'azza wa jalla berfirman:

"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran kepadamu (Muhammad) secara beransur-ansur."
(Surah al-Insan:23)

Bermaksud, memang benar dan pasti al-Quran itu daripada Allah 'azza wa jalla dan bukan daripada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.Kebiasaanya, Para Ulama Aqidah mendefinisikan Quran ini mereka berkata:

"al-Quran ini dari Allah dan akan kembali kepadaNya."

Maksudnya, yang berfirman itu memang dari Allah Tabaraka wa Ta'ala. Ketika kita membaca Quran, bererti yang kita baca itu adalah firman Allah 'azza wa jalla.

Kemudian, diantara makna "Kembali kepada Allah" itu disebutkan di dalam riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim yang disahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan asy-Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani melalui jalan Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Hudzaifah ibn al-Yaman radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan:

"Islam akan luntur (lusuh) seperti lusuhnya corak (warna-warni) pakaian (bila ia telah lama dipakai), sehingga (sampai suatu masa nanti) orang sudah tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan puasa, dan apa yang dimaksudkan dengan sembahyang dan apa yang dimaksudkan dengan nusuk (ibadat) dan apa yang dimaksudkan dengan sedekah. Dan al-Quran akan dihilangkan kesemuanya pada suatu malam sahaja, maka (pada esok harinya) tidak tinggal dipermukaan bumi daripadanya walau pun hanya satu ayat. Maka yang tinggal hanya beberapa kelompok daripada manusia, diantaranya orang-orang tua, lelaki dan perempuan.

Mereka hanya mampu berkata, "Kami sempat menemui nenek moyang kami memperkatakan kalimat "La ilaha illallah", lalu kami pun mengatakannya juga".

Maka berkata Shilah (perawi hadis daripada Huzaifah), "Apa yang dapat dibuat oleh La ilaha illallah (apa gunanya La ilaha illallah) terhadap mereka, sedangkan mereka sudah tidak memahami apa yang dimaksudkan dengan sembahyang, puasa, nusuk, dan sedekah"?

Maka Huzaifah memalingkan muka daripadanya (Shilah yang bertanya). Kemudian Shilah mengulangi pertanyaan itu tiga kali. Maka Huzaifah memalingkan mukanya pada setiap kali pertanyaan Shilah itu. Kemudian Shilah bertanya lagi sehingga akhirnya Huzaifah menjawab, "Kalimat itu dapat menyelamatkan mereka daripada api neraka" (Huzaifah memperkatakan jawapan itu tiga kali).

Maka, bila sampai zamannya, mushaf-mushaf yang kita pegang sekarang ini akan tinggal hanya helaian kertas sahaja, adapun ayat-ayatnya dicabut dan dihilangkan oleh Allah 'azza wa jalla, demikian juga para penghafal Quran, bila tiba zaman tersebut, hafalannya akan hilang. Inilah gambaran yang dikhabarkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelang hari kiamat, yang mana manusia saat itu adalah manusia yang paling buruk.

Seterusnya, jangan diragukan bahawasanya al-Quran yang ada dihadapan kita yang terletak di rak buku yang kandungannya ada 30 Juzuk, memang pasti dan pasti itulah al-Quran. Kerana, Allah 'azza wa jalla yang menjaga al-Quran tersebut.

Firman Allah 'azza wa jalla:

"Kami menurunkan al-Quran dan Kami pasti menjaga al-Quran."
(Surah al-Hijr:9)

Inilah janji Allah 'azza wa jalla, tidak akan berubah, bertambah dan berkurang. Sesiapa sahaja yang berusaha berbuat demikian, Allah tabaraka wa ta'ala pasti akan membongkar kedoknya nanti.Bahkan, 1400 tahun yang lalu, Allah 'azza wa jalla telah mencabar kepada manusia-manusia yang tidak beriman ini agar membuat satu surah untuk menandingi al-Quran. Ternyata, sehingga sekarang, manusia-manusia yang tidak beriman itu tidak mampu dan tidak akan dapat.
Membuktikan, al-Quran benar-benar dijaga dan dipelihara oleh Allah 'azza wa jalla.

Selanjutnya, al-Quran turun kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pertama-tama sekali adalah pada bulan Ramadhan, yakni pada malam Lailatul Qadr. Malam yang Allah 'azza wa jalla janjikan terdapat berkahnya. Sebagaimana yang Allah 'azza wa jalla firmankan di dalam surah al-Qadr:1:

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan."

Juga dalam surah ad-Dukhaan:3:

"Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam yang penuh berkah."

Kemudian, di dalam surah al-Baqarah:185:

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)."

Kesimpulan yang dapat dipetik melalui tiga ayat yang mulia di atas bahawasanya:

*al-Quran turun pada bulan ramadhan yakni pada malam Lailatul Qadr, ketika itu usia Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam 40 tahun semasa di Gua Hira. Diusia seperti ini, kebanyakan para Nabi diutus. Usia 40 tahun merupakan usia yamg dewasa dan sangat matang.

Selanjutnya, tiada khilaf dari kalangan Ulama bahawasanya al-Quran ataupun surah yang pertama yang diturunkan Allah 'azza wa jalla dan disampaikan melalui Jibril kepada Nabi shallallah 'alaihi wasallam adalah surah al-'Alaq yakni ayat 1-5:

"Iqro' bismirobbikal ladzii kholaq......"

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu dan yang lainnya mengatakan:

"Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan beransur-ansur kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.”
(Hadith Riwayat Thabari, An-Nasai dalam Sunan al-Kubra, Al-Hakim dalam Mustadrak, Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.)

Adapun selama 23 tahun itu:

*13 Tahun di Makkah
* dan 10 tahun di Madinah.

Kemudian, setelah ayat dan surah pertama dari surah al-'Alaq turun, selepas itu wahyu sempat terputus, baru turun ayat ataupun surah yang kedua dari Surah al-Muddatstsir ayat 1-5. Sebagaimana yang disebutkan di dalam ash-Shahihain.

Selanjutnya, al-Quran itu turun melalui dua cara iaitu:

*cara yang pertama yang dikenali sebagai 'Ibtidaiy.

*cara yang kedua adalah 'Sababiy'

Yang dimaksudkan dengan 'Ibtidaiy' ialah, al-Quran itu turun tanpa diiringi sebab yang melatar belakanginya. Kebanyakan al-Quran itu turun melalui cara 'Ibtidaiy'.Kemudian, ada pula al-Quran yang turun dengan cara 'Sababiy'. Bermaksud, ia turun didahului sebab yang melatar belakanginya sehingga kita mengenal dalam ilmu tafsir ada yang disebut sebagai 'Asbabun Nuzul'.

Al-Quran yang turun melalui cara kedua ini terjadi dengan pelbagai macam atau ragam, kadang ia turun disebabkan pertanyaan yang dilakukan oleh Para Sahabat kemudian Allah 'azza wa jalla menurunkan jawapannya. Sebagai contoh di dalam surah al-Baqarah:189:

"Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) mengenai (peredharan) anak-anak bulan. Katakanlah: "(peredharan) anak-anak bulan itu menandakan waktu-waktu (urusan dan amalan) manusia, khasnya ibadat Haji......."

Para Sahabat bertanya lalu Allah 'azza wa jalla menjawabnya dengan cara diturunkan ayat.

Atau ada juga sebab melalui perbuatan tertentu yang memerlukan penjelasan hukum. Sebagaimana kisah Khaulah bin Tsa'labah yang datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengadukan perihal suaminya yang menyamakan beliau dengan ibunya. Maka, Allah 'azaa wa jalla menurunkan surah al-Mujadilah ayat 1-4 sebagai jawapan bagi pertanyaan Khaulah kepada Baginda shallallahu 'alaihi wasallam.

Kemudian, ada satu kaedah dalam ilmu Tafsir yang berbunyi:

"Yang menjadi ibroh (pengajaran) adalah keumuman lafaz. Bukan kekhususan sebab."

Jadi, walaupun sesetengah ayat itu turun dengan sebab tertentu, tapi hukum ayat itu umum. Siapapun yang melakukan kejadian seperti itu, ia tercakup dalam ayat itu.

Contoh yang paling mudah sebagaimana yang tercatat dalam surah al-Fatihah:6-7:

"Tunjukilah kami jalan yang lurus, Iaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang telah Engkau murkai dan bukan (pula) jalan orang-orang sesat."

Diterangkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sahabat 'Adi bin Abu Hatim radhiallahu 'anhu dalam hadith yang panjang, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya yahudi itu adalah yang dimurkai dan Nashara adalah yang disesatkan."
(Hadith Riwayat At-Tirmidzi dalam sunannya dan disahihkan oleh asy-Syeikh al-Albani dalam Sahiihul Jami')

Kenapa yahudi adalah golongan yang dimurkai? Kerana, mereka adalah golongan yang memiliki ilmu namun tidak menggunakan ilmu tersebut. Adapaun nashara, mereka tersesat kerana mereka suka beramal tanpa didasari ilmu. Maka, tercakup dalam hal ini sesiapa sahaja yang menyerupai dua golongan ini, maka ia dimurkai dan tersesat dari jalan Allah 'azza wa jalla.

Maka, al-Quran ini hidup. Relevan sepanjang zaman dan tidak hairan kalau kita termasuk ke dalamnya.

Al-Quran: Makkiyah dan Madaniyah

Yang terakhir, di dalam al-Quran kita akan menemukan ada yang disebut sebagai ayat Makkiyah dan ayat Madaniyyah. Apa yang dimasudkan sebagai ayat Makkiyah dan Madaniyyah? Para Ulama mendefinisikan:"

Ayat Makkiyah itu adalah ayat yang turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum hijrah ke Madinah."

Jadi, ayat yang turun di Mekkah selama 13 tahun itu namanya ayat  Makkiyah. Adapun ayat Madaniyyah:

"Yang turun setelah Nabi hijrah ke Madinah."

Selama 10 tahun di Madinah, ayat yang turut tersebut dinamakan ayat Madaniyyah. Namun, perlu kita ketahui bahawasanya, ayat yang turun selepas Nabi Hijrah walaupun turun di Mekkah itu juga dinamakan sebagai ayat madaniyyah. Seperti ayat terakhir dalam surah al-Maidah:3. Ayat ini turun di Mekkah ketika Hajjatul Wada' (Haji perpisahan) bahkan turunnya di 'Arofah, tapi turunnya setelah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hijrah ke Madinah.

Kemudian, terdapat perbezaan antara ayat madaniyyah dan makkiyah iaitu:

*Dari sudut gaya bahasa.

Ayat-ayat yang turun di Mekkah itu gaya bahasanya keras dan tegas. Sebabnya, yang diajak berbicara itu adalah golongan pembangkang, sombong dll seperti Abu Jahal. Yang mana mereka ini layak mendapatkan gaya bahasa seperti itu yakni tegas dan keras.

Adapun ayat yang turun di Madinah, gaya bahasanya lunak, lemah lembut dll. Kerana, yang diajak berbicara adalah orang-orang yang beriman, orang-orang yang sudah tunduk dan patuh kepada perintah Allah 'azza wa jalla.

*Surah al-Makkiyah itu rata-rata ayat-ayatnya pendek dan ringkas. Sementara surah yang turun di Madinah itu kebanyakkan ayatnya panjang-panjang dan menjelaskan perincian hukum-hakam.

*Dari sudut pembahasan, surah-surah yang turun di Mekah itu kebanyakan berbicara tentang masalah Aqidah. Sebabnya, kebanyakan orang-orang kafir mengingkarinya yakni dalam masalah aqidah berupa masalah Qadho dan Qadar, iman kepada Nabi, iman kepada hari akhir dll. Adapun surah-surah madinah, kebanyakan bercerita tentang perincian hukum, muamalah, ibadah. Kerana, aqidah dan tauhid mereka itu sudah lurus. Maka, mereka inginkan perincian-perinciannya.

Selain itu, ayat-ayat yang madinah juga berbicara tentang masalah Jihad, hukum-hukum Jihad dan tentang orang Munafik. Sebabnya, Jihad hanya berlaku semasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ada di Madinah dan para munafik juga muncul di Madinah.

*Seterusnya, ciri ayat Makkiyah itu seruannya "Ya Aiyuhannas (Wahai Manusia)..."

kalau ayat Madaniyyah pula seruannya "Ya Aiyuhal Ladziina Aamanuu(Wahai orang-orang yang beriman)......"Wallahu'alam.

Catatan Nota Kuliah Ustaz Abdul Wahab Al-Bustami-Kitab Riyadhus Sholihin


Bismillahir Rahmanir Rahiim.

Alhamdulillah 'ala kulli hal, hikmah berhijrah ke Kota Kinabalu atas urusan kerja memang terdapat 1001 hikmah yang Allah 'azza wa jalla berikan kepada daku. Antaranya, Allah 'azza wa jalla membentangkan kepada diri ini jalan untuk terus menuntut ilmu. Dikesempatan yang ringkas ini, daku ingin berkongsi catatan Kuliah Ustaz Abdul Wahab Bin Bustami al-Banjari yang berlangsung di Masjid Nurul Aman, Kg Cenderamata, Kota Kinabalu. Berikut Notanya, moga bermanfaat.

Bab Ke-45 (Menziarahi orang-orang baik, berdamping, sayangi, bersahabat, mengharap ziarah dari mereka dan menziarahi tempat-tempat baik)

(1) Banyak kelebihan yang diperolehi oleh orang-orang yang menziarahi orang-orang yang baik, kerana ia akan mempengaruhi diri kita yakni mengikuti mereka dalam kebaikan. Ustaz Wahab membawakan hadith,


Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka."
(Riwayat Abu Dawud, sahih dari Abdullah bin Umar)

Maka apabila kita tasyabbuh (menyerupai) orang-orang baik ataupun ahli ilmu, maka kita akan beroleh kejayaan. Berbahagialah orang-orang yang meniru orang-orang baik ataupun ahli ilmu.
Kemudian, sebagai seorang muslim, kita wajib menyayangi orang yang berilmu ataupun dalam erti kata lain menyayangi orang beriman. Kerana, ia merupakan salah satu kesempurnaan iman seseorang hamba.

عَنْ أَبِيْ حَمْزَةَ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ خَادِمِ رَسُوْل الله عَنْ النَّبِي قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik, khadim (pembantu) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau berkata,

“Tidaklah seseorang dari kalian sempurna imannya, sampai ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”.
(Riwayat Al-Bukhari, Kitab Iman)

Juga sabda Nabi

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ اْلإِيْمَـانِ: أَنْ يَكُوْنَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يَلْقَى فِى النَّـارِ.
(رَوَاهُ الْبُخَارِى وَمُسْلِمٌ وَغَيْرُهُمَا)


“Ada tiga hal, yang jika tiga hal itu ada pada seseorang, maka dia akan berasakan manisnya iman. (Iaitu) Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya; mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali kerana Allah; benci untuk kembali kepada kekufuran selepas Allah menyelamatkan darinya, seperti bencinya jika dicampakkan ke dalam api.”
(Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik ra)

Maka, setiap kaum muslimin pasti ingin merasakan kemanisan/kelazatan iman. Salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan menyayangi orang-orang beriman.

Seterusnya, Ustaz Abdul Wahab memetik dalil yang terdapat dalam bab ini yakni surah al-Kahfi:60-66 yang mengisahkan tentang Nabi Musa alaihis salam. Yang mana, Nabi Musa 'alaihissalam sanggup untuk berjalan hatta bertahun-tahun untuk menemui/menziarahi seorang hamba yang sholeh (Nabi Khidir) yang berada di seberang lautan kerana ingin mempelajari ilmu dengan beliau.

 وَإِذ قالَ موسىٰ لِفَتىٰهُ لا أَبرَحُ حَتّىٰ أَبلُغَ مَجمَعَ البَحرَينِ أَو أَمضِىَ حُقُبًا

 Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun".
(Surah Al-Kahfi: 60)

Selanjutnya Ustaz Abdul Wahab menyebutkan faedah kisah Nabi Musa yang tercatat dalam surah al-Kahfi tadi:

*Menjadi satu sunnah untuk kaum muslimin rehlah mencari ilmu. Kerana, Ulama dahulunya walaupun dalam keadaan dhoif dan serba kurang, mereka sanggup rehlah untuk mencari ilmu. Berbeza orang sekarang, yang lebih suka duduk dihadapan internet tanpa berusaha untuk rehlah mencari ilmu. Walaupun zaman sekarang teknologi semakin canggih, yang lebih utama adalah dengan rehlah menuntut ilmu.

*Ilmu diperoleh dengan cara belajar, cara belajar yang paling utama adalah dengan bertalaqqi (mendengar langsung dari guru).

*Banyak kemulian dan adab yang akan diperoleh sekiranya belajar ataupun duduk bersama-sama ulama.

*Anjuran untuk berusaha menambahkan ilmu. Tercatat dalam Quran, ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya tentang siapakah yang lebih berilmu lantas beliau menjawabnya sendiri bahawasanya beliau lah orang yang paling berilmu. (Catatan: Kisah pengembaraan Nabi Musa dirakamkan dalam Al-Quran. Manakala dialog/ pertanyaan 'siapa yang lebih berilmu dirakamkan dalam hadith riwayat Al-Bukhari & Muslim dari Ubay bin Ka'ab).

Tidak dinafikan lagi, Nabi Musa memang manusia yang paling berilmu, namun Allah 'azza wa jalla menegur Nabu Musa dengan menurunkan surah al-Kahfi:60-66 di atas, supaya Nabi Musa menambahkan ilmunya.

Ustaz Abdul Wahab membacakan satu doa tentang anjuran agar ditambahkan ilmu, ia tercatat dalam Surah Toha, firman Allah:

وَقُل رَبِّ زِدنى عِلمًا

"Katakan: Wahai Tuhanku, tambahkan ilmu."
(Surah Toha: 114)

*Sabar menuntut ilmu.

Kenapa Ulama dahulu mereka semuanya berjaya? Kerana, kesabaran mereka dalam menuntut ilmu. Kesabaran mereka sampaikan apabila mereka ingin mencari sebuah hadith atau riwayat, mereka sanggup menyelak setiap helaian kitab.

Ustaz Abdul Wahab menceritakan pengalaman beliau duduk bersama Syeikh Muhsin al-'Abbad hafizahullah. Syeikh membacakan setiapa perawi dari A sampai Z kepada salah seorang pelajarnya. Ini menunjukkan, kesabaran mereka membawa kesan yang mana mereka mampu menghafal setiap rawi-rawi dalam sesebuah hadith.

*Kejayaan hanya akan diperoleh oleh orang-orang yang sabar sebagaimana mana Nabi Musa sabar berjalan hingga baginda berjumpa Nabi Khidir dan belajar dengan beliau.

(2) Seterusnya, Ustaz Wahab membawakan ayat dalam surah al-Kahfi:28, yang mana ayat ini menyuruh agar kita bersabar duduk bersama-sama dengan orang-orang yang senantiasa ingat dan berdoa kepada Allah.

وَاصبِر نَفسَكَ مَعَ الَّذينَ يَدعونَ رَبَّهُم بِالغَدوٰةِ وَالعَشِىِّ يُريدونَ وَجهَهُ ۖ وَلا تَعدُ عَيناكَ عَنهُم تُريدُ زينَةَ الحَيوٰةِ الدُّنيا ۖ وَلا تُطِع مَن أَغفَلنا قَلبَهُ عَن ذِكرِنا وَاتَّبَعَ هَوىٰهُ وَكانَ أَمرُهُ فُرُطًا

"Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas."
(Surah Al-Kahfi: 28)

Iaitu, sabar bersama-sama mereka dengan cara tanpa mengenal adakah orang yang sentiasa mengingati Allah itu muda atau tua, kaya ataupun miskin, kuat ataupun lemah.

(3) Kemudian, Ustaz Abdul Wahab membacakan hadith tentang kisah Abu Bakar dan Umar menziarahi Ummu Aiman setelah kewafatan Baginda shallallahu 'alaihi wasallam.
Yang mana, sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam wafat, Baginda sering menziarahi Ummu Aiman. Maka, sudah menjadi satu kebiasaan para Sahabat akan melakukan hal yang Nabi sentiasa lazimi. Lalu, Abu Bakar dan Umar melakukan apa yang Nabi lakukan iaitu menziarahi Ummu Aiman.

Ketika Abu Bakar dan Umar sampai, Ummu Aiman menangis. Lalu,  kedua sahabat ini cuba memujuk hati Ummu Aiman bahawasanya apa yang Allah 'azza wa jalla takdirkan dengan mewafatkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, ia merupakan kebaikan kepada Baginda shallallahu 'alaihi wasallam. Akan tetapi, Ummu Aiman menangis bukan kerana kewafatan Baginda, akan tetapi Ummu Aiman menangis kerana wahyu sudah terputus dari langit. Mendengar jawapan Ummu Aiman ini, Abu Bakar dan Umar pun turut menangis. Kisah ini diriwayatkan olah Imam Muslim di dalam kitab Sahih-nya dari sahabat Anas bin Malik.

Faedah hadith ini:

*Menerangkan tentang keutamaan Ummu Aiman, yang mana beliau merupakan salah seorang wanita yang telah berkhidmat menjadi ibu susuan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

*Boleh menangisi pemergian orang yang soleh.

*banyak fitnah yang terjadi bila mana wahyu telah terputus.

Catatan kuliah oleh: Akhi Aljimar Almahir, Kota Kinabalu.
Semakan & edit: Akhi Mohd Riduan b Khairi, Kuching.