Bismillahir Rahmaaniir Raahiim
Definisi al-Quran
Pertamanya, apa yang diertikan sebagai al-Quran?
Para Ulama mendefinisikan al-Quran dengan sangat mudah, al-Quran menurut istilah syariat adalah:
"Kalamullahu ta'ala al-munazzal 'ala rosulihi wa khootami anbiyaa-ihii Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam al-mabdu' fii suuratil fatihah, al-makhtum fii suuratinn Naas."
Maksudnya: al-Quran adalah firman Allah 'azza wa jalla yang diturunkan kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam iaitu penutup para Nabi, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang dimulai dengan surah al-Fatihah dan ditutup dengan surah an-Nas.
Nuzulul Quran
Kemudian, Ustaz membacakan dalil yang terdapat di dalam surah Yunus:2:
"Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran itu (dalam) bahasa arab supaya kamu memahami."
Seterusnya, Allah 'azza wa jalla berfirman:
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran kepadamu (Muhammad) secara beransur-ansur."
(Surah al-Insan:23)
Bermaksud, memang benar dan pasti al-Quran itu daripada Allah 'azza wa jalla dan bukan daripada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.Kebiasaanya, Para Ulama Aqidah mendefinisikan Quran ini mereka berkata:
"al-Quran ini dari Allah dan akan kembali kepadaNya."
Maksudnya, yang berfirman itu memang dari Allah Tabaraka wa Ta'ala. Ketika kita membaca Quran, bererti yang kita baca itu adalah firman Allah 'azza wa jalla.
Kemudian, diantara makna "Kembali kepada Allah" itu disebutkan di dalam riwayat Ibnu Majah dan al-Hakim yang disahihkan oleh al-Hakim dan disepakati oleh Imam adz-Dzahabi dan asy-Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani melalui jalan Sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Hudzaifah ibn al-Yaman radhiallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan:
"Islam akan luntur (lusuh) seperti lusuhnya corak (warna-warni) pakaian (bila ia telah lama dipakai), sehingga (sampai suatu masa nanti) orang sudah tidak mengerti apa yang dimaksudkan dengan puasa, dan apa yang dimaksudkan dengan sembahyang dan apa yang dimaksudkan dengan nusuk (ibadat) dan apa yang dimaksudkan dengan sedekah. Dan al-Quran akan dihilangkan kesemuanya pada suatu malam sahaja, maka (pada esok harinya) tidak tinggal dipermukaan bumi daripadanya walau pun hanya satu ayat. Maka yang tinggal hanya beberapa kelompok daripada manusia, diantaranya orang-orang tua, lelaki dan perempuan.
Mereka hanya mampu berkata, "Kami sempat menemui nenek moyang kami memperkatakan kalimat "La ilaha illallah", lalu kami pun mengatakannya juga".
Maka berkata Shilah (perawi hadis daripada Huzaifah), "Apa yang dapat dibuat oleh La ilaha illallah (apa gunanya La ilaha illallah) terhadap mereka, sedangkan mereka sudah tidak memahami apa yang dimaksudkan dengan sembahyang, puasa, nusuk, dan sedekah"?
Maka Huzaifah memalingkan muka daripadanya (Shilah yang bertanya). Kemudian Shilah mengulangi pertanyaan itu tiga kali. Maka Huzaifah memalingkan mukanya pada setiap kali pertanyaan Shilah itu. Kemudian Shilah bertanya lagi sehingga akhirnya Huzaifah menjawab, "Kalimat itu dapat menyelamatkan mereka daripada api neraka" (Huzaifah memperkatakan jawapan itu tiga kali).
Maka, bila sampai zamannya, mushaf-mushaf yang kita pegang sekarang ini akan tinggal hanya helaian kertas sahaja, adapun ayat-ayatnya dicabut dan dihilangkan oleh Allah 'azza wa jalla, demikian juga para penghafal Quran, bila tiba zaman tersebut, hafalannya akan hilang. Inilah gambaran yang dikhabarkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjelang hari kiamat, yang mana manusia saat itu adalah manusia yang paling buruk.
Seterusnya, jangan diragukan bahawasanya al-Quran yang ada dihadapan kita yang terletak di rak buku yang kandungannya ada 30 Juzuk, memang pasti dan pasti itulah al-Quran. Kerana, Allah 'azza wa jalla yang menjaga al-Quran tersebut.
Firman Allah 'azza wa jalla:
"Kami menurunkan al-Quran dan Kami pasti menjaga al-Quran."
(Surah al-Hijr:9)
Inilah janji Allah 'azza wa jalla, tidak akan berubah, bertambah dan berkurang. Sesiapa sahaja yang berusaha berbuat demikian, Allah tabaraka wa ta'ala pasti akan membongkar kedoknya nanti.Bahkan, 1400 tahun yang lalu, Allah 'azza wa jalla telah mencabar kepada manusia-manusia yang tidak beriman ini agar membuat satu surah untuk menandingi al-Quran. Ternyata, sehingga sekarang, manusia-manusia yang tidak beriman itu tidak mampu dan tidak akan dapat.
Membuktikan, al-Quran benar-benar dijaga dan dipelihara oleh Allah 'azza wa jalla.
Selanjutnya, al-Quran turun kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pertama-tama sekali adalah pada bulan Ramadhan, yakni pada malam Lailatul Qadr. Malam yang Allah 'azza wa jalla janjikan terdapat berkahnya. Sebagaimana yang Allah 'azza wa jalla firmankan di dalam surah al-Qadr:1:
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan."
Juga dalam surah ad-Dukhaan:3:
"Sesungguhnya kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam yang penuh berkah."
Kemudian, di dalam surah al-Baqarah:185:
"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil)."
Kesimpulan yang dapat dipetik melalui tiga ayat yang mulia di atas bahawasanya:
*al-Quran turun pada bulan ramadhan yakni pada malam Lailatul Qadr, ketika itu usia Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam 40 tahun semasa di Gua Hira. Diusia seperti ini, kebanyakan para Nabi diutus. Usia 40 tahun merupakan usia yamg dewasa dan sangat matang.
Selanjutnya, tiada khilaf dari kalangan Ulama bahawasanya al-Quran ataupun surah yang pertama yang diturunkan Allah 'azza wa jalla dan disampaikan melalui Jibril kepada Nabi shallallah 'alaihi wasallam adalah surah al-'Alaq yakni ayat 1-5:
"Iqro' bismirobbikal ladzii kholaq......"
Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu dan yang lainnya mengatakan:
"Al Qur’an secara keseluruhan diturunkan dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Lalu diturunkan beransur-ansur kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam- sesuai dengan peristiwa-peristiwa dalam jangka waktu 23 tahun.”
(Hadith Riwayat Thabari, An-Nasai dalam Sunan al-Kubra, Al-Hakim dalam Mustadrak, Al-Baihaqi dalam Dalailun Nubuwwah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim dan disetujui oleh Adz-Dzahabi.)
Adapun selama 23 tahun itu:
*13 Tahun di Makkah
* dan 10 tahun di Madinah.
Kemudian, setelah ayat dan surah pertama dari surah al-'Alaq turun, selepas itu wahyu sempat terputus, baru turun ayat ataupun surah yang kedua dari Surah al-Muddatstsir ayat 1-5. Sebagaimana yang disebutkan di dalam ash-Shahihain.
Selanjutnya, al-Quran itu turun melalui dua cara iaitu:
*cara yang pertama yang dikenali sebagai 'Ibtidaiy.
*cara yang kedua adalah 'Sababiy'
Yang dimaksudkan dengan 'Ibtidaiy' ialah, al-Quran itu turun tanpa diiringi sebab yang melatar belakanginya. Kebanyakan al-Quran itu turun melalui cara 'Ibtidaiy'.Kemudian, ada pula al-Quran yang turun dengan cara 'Sababiy'. Bermaksud, ia turun didahului sebab yang melatar belakanginya sehingga kita mengenal dalam ilmu tafsir ada yang disebut sebagai 'Asbabun Nuzul'.
Al-Quran yang turun melalui cara kedua ini terjadi dengan pelbagai macam atau ragam, kadang ia turun disebabkan pertanyaan yang dilakukan oleh Para Sahabat kemudian Allah 'azza wa jalla menurunkan jawapannya. Sebagai contoh di dalam surah al-Baqarah:189:
"Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) mengenai (peredharan) anak-anak bulan. Katakanlah: "(peredharan) anak-anak bulan itu menandakan waktu-waktu (urusan dan amalan) manusia, khasnya ibadat Haji......."
Para Sahabat bertanya lalu Allah 'azza wa jalla menjawabnya dengan cara diturunkan ayat.
Atau ada juga sebab melalui perbuatan tertentu yang memerlukan penjelasan hukum. Sebagaimana kisah Khaulah bin Tsa'labah yang datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengadukan perihal suaminya yang menyamakan beliau dengan ibunya. Maka, Allah 'azaa wa jalla menurunkan surah al-Mujadilah ayat 1-4 sebagai jawapan bagi pertanyaan Khaulah kepada Baginda shallallahu 'alaihi wasallam.
Kemudian, ada satu kaedah dalam ilmu Tafsir yang berbunyi:
"Yang menjadi ibroh (pengajaran) adalah keumuman lafaz. Bukan kekhususan sebab."
Jadi, walaupun sesetengah ayat itu turun dengan sebab tertentu, tapi hukum ayat itu umum. Siapapun yang melakukan kejadian seperti itu, ia tercakup dalam ayat itu.
Contoh yang paling mudah sebagaimana yang tercatat dalam surah al-Fatihah:6-7:
"Tunjukilah kami jalan yang lurus, Iaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang telah Engkau murkai dan bukan (pula) jalan orang-orang sesat."
Diterangkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana yang diriwayatkan oleh Sahabat 'Adi bin Abu Hatim radhiallahu 'anhu dalam hadith yang panjang, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya yahudi itu adalah yang dimurkai dan Nashara adalah yang disesatkan."
(Hadith Riwayat At-Tirmidzi dalam sunannya dan disahihkan oleh asy-Syeikh al-Albani dalam Sahiihul Jami')
Kenapa yahudi adalah golongan yang dimurkai? Kerana, mereka adalah golongan yang memiliki ilmu namun tidak menggunakan ilmu tersebut. Adapaun nashara, mereka tersesat kerana mereka suka beramal tanpa didasari ilmu. Maka, tercakup dalam hal ini sesiapa sahaja yang menyerupai dua golongan ini, maka ia dimurkai dan tersesat dari jalan Allah 'azza wa jalla.
Maka, al-Quran ini hidup. Relevan sepanjang zaman dan tidak hairan kalau kita termasuk ke dalamnya.
Al-Quran: Makkiyah dan Madaniyah
Yang terakhir, di dalam al-Quran kita akan menemukan ada yang disebut sebagai ayat Makkiyah dan ayat Madaniyyah. Apa yang dimasudkan sebagai ayat Makkiyah dan Madaniyyah? Para Ulama mendefinisikan:"
Ayat Makkiyah itu adalah ayat yang turun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebelum hijrah ke Madinah."
Jadi, ayat yang turun di Mekkah selama 13 tahun itu namanya ayat Makkiyah. Adapun ayat Madaniyyah:
"Yang turun setelah Nabi hijrah ke Madinah."
Selama 10 tahun di Madinah, ayat yang turut tersebut dinamakan ayat Madaniyyah. Namun, perlu kita ketahui bahawasanya, ayat yang turun selepas Nabi Hijrah walaupun turun di Mekkah itu juga dinamakan sebagai ayat madaniyyah. Seperti ayat terakhir dalam surah al-Maidah:3. Ayat ini turun di Mekkah ketika Hajjatul Wada' (Haji perpisahan) bahkan turunnya di 'Arofah, tapi turunnya setelah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam hijrah ke Madinah.
Kemudian, terdapat perbezaan antara ayat madaniyyah dan makkiyah iaitu:
*Dari sudut gaya bahasa.
Ayat-ayat yang turun di Mekkah itu gaya bahasanya keras dan tegas. Sebabnya, yang diajak berbicara itu adalah golongan pembangkang, sombong dll seperti Abu Jahal. Yang mana mereka ini layak mendapatkan gaya bahasa seperti itu yakni tegas dan keras.
Adapun ayat yang turun di Madinah, gaya bahasanya lunak, lemah lembut dll. Kerana, yang diajak berbicara adalah orang-orang yang beriman, orang-orang yang sudah tunduk dan patuh kepada perintah Allah 'azza wa jalla.
*Surah al-Makkiyah itu rata-rata ayat-ayatnya pendek dan ringkas. Sementara surah yang turun di Madinah itu kebanyakkan ayatnya panjang-panjang dan menjelaskan perincian hukum-hakam.
*Dari sudut pembahasan, surah-surah yang turun di Mekah itu kebanyakan berbicara tentang masalah Aqidah. Sebabnya, kebanyakan orang-orang kafir mengingkarinya yakni dalam masalah aqidah berupa masalah Qadho dan Qadar, iman kepada Nabi, iman kepada hari akhir dll. Adapun surah-surah madinah, kebanyakan bercerita tentang perincian hukum, muamalah, ibadah. Kerana, aqidah dan tauhid mereka itu sudah lurus. Maka, mereka inginkan perincian-perinciannya.
Selain itu, ayat-ayat yang madinah juga berbicara tentang masalah Jihad, hukum-hukum Jihad dan tentang orang Munafik. Sebabnya, Jihad hanya berlaku semasa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ada di Madinah dan para munafik juga muncul di Madinah.
*Seterusnya, ciri ayat Makkiyah itu seruannya "Ya Aiyuhannas (Wahai Manusia)..."
kalau ayat Madaniyyah pula seruannya "Ya Aiyuhal Ladziina Aamanuu(Wahai orang-orang yang beriman)......"Wallahu'alam.
Tiada ulasan:
Catat Ulasan